Coret - coret

Tuesday, October 1, 2013

God’s Unpredictable (Part I)


  1. Seeking Excuse
Alkisah hiduplah seorang Pemuda dari negeri Palembang. Pemuda itu baru saja menyelesaikan pendidikan kuliahnya. Baru lulus. Akan tetapi, Pemuda itu tidak diperbolehkan mengikuti ritual wisuda saat itu dikarenakan dia dianggap belum melunasi uang pendidikannya. “Kenapa saya harus membayar uang semester depan? Saya sudah lulus! Saya tidak kuliah lagi!”, marah Pemuda itu kepada Pembantu Dekan. Pembantu Dekan tetap bersikeras. Protes pemuda itu tak digubris. Keputusan kampus mutlak. Akhirnya Pemuda itu tidak dapat mengikuti wisuda periode Oktober, dan harus menunggu periode selanjutnya, Desember. Itupun, Pemuda itu diwajibkan membayar iuran semester yang tidak berguna. Mengeluarkan tabungan terakhirnya untuk membayar iuran semester padahal dia sudah lulus. Konyol.

Hari-hari berikutnya Pemuda itu masih kesal. Amarahnya kepada pihak Kampus belum redam. Suatu ketika dia melihat sebuah lowongan dari perusahaan Game Developer terkenal. Dia ingat nama perusahaan Game Developer itu sering dilihatnya di beberapa game yang pernah dia mainkan. Hatinya berbisik. “Kenapa tak kucoba saja?” dan dia pun mengirimkan berkas lamarannya. 

Beberapa hari kemudian, dia mendapat sebuah e-mail. Kalau tidak salah ingat, itu adalah malam takbiran Hari Raya Idul Fitri 2010. Dan dia mendapat e-mail balasan dari seorang bernama Vietnam, Nguyen bla..bla..bla, yang merupakan perwakilan perusahaan Game Developer tersebut, untuk mengikuti tes di kantor cabang mereka di Jogjakarta. Sontak Pemuda ini melompat dari duduknya. Senyum kegembiraan tak dapat ditutupi. Diikuti kemeriahan alunan takbir yang terus bergema sepanjang malam itu. “Nice Timing”, bisik pemuda itu.

Pemuda itu bercerita kepada orangtuanya. Cuma satu hal yang dirisaukan orangtuanya, “Nanti di Jogja mau tinggal dimana?”. “Jangan khawatir, ada Indra, aku akan menginap di kos-kosannya beberapa hari”. Ya, beberapa hari. Itu yang diucapkan kepada orangtuanya. Tapi dalam hati Pemuda itu, “Ya paling sebulan. Wisudaku juga masih tiga bulan lagi. Aku mau liburan dan refreshing dulu setelah bulan-bulan berat menghadapi Ujian Akhir, Sidang, dan Kampus akhir-akhir ini. Alasan yang bagus. Pasti dapat izin ke Jogja nih” Orangtuanya pun setuju untuk membiarkannya pergi menuju Jogjakarta. Memberikannya tiket dan uang makan yang cukup untuk sepuluh hari disana. Sambil berdoa anaknya mendapat pekerjaan sepulangnya dari sana.

Izin telah dikantongi. Trik yang mujarab bagi pemuda itu. Baru pertama kali ini dia ke Jogja. Untuk usianya yang baru 22 tahun saat itu, Jogja adalah tanah terjauh yang pernah dia pijaki seumur hidupnya. Dia Cuma berkeliaran di Palembang, sekali ke Medan, dua kali ke Lampung, lebih dari lima kali ke Jambi, dan cuma sekali ke Jakarta. Sudah lama rasanya Pemuda ini tidak pergi berlibur jauh, dan berkat tawaran tes tersebut akhirnya kesampaian juga niatnya yang tertahan itu. Jogja, I’m Coming!


  1. Land of Gudeg
Dua hari satu malam telah dia lewati. Dan sekarang dia telah menginjak tanah Jawa. Ngayogyakartohadiningrat. Berbekal tanya sana-sini, akhirnya dia sampai juga ke tempat tes. Selama tes berlangsung, yang dilakukannya hanya mengambar. Ya, mengambar. Pemuda itu disuruh mengambar karakter wanita dalam game. Dia mengambil pensil, dan mencoret-coret kertas ujiannya. Dari wajah, garis tubuh, kostum, sampai menjadi suatu bentuk wanita lengkap yang siap berperang melawan monster-monster di dunia Game. “Sudah, itu saja”. 

Sambil menanti pengumuman kelulusannya, yang katanya akan di kabarkan dalam waktu dekat, Pemuda itu memulai waktu liburannya. Hari itu, dia pergi mengunjungi Malioboro. Betapa kagumnya dia dengan kawasan tersebut. Dia berjalan setapak demi setapak menyusuri hamparan orang. Diliatnya kanan-kiri para pedagang menjajakan barang jualannya. Dia berhenti sebentar, memegang-megang sebentar, lalu menanyakan harga. “Wah, Murah!!”, dia terkejut gembira. Dia tidak membeli barang-barang tersebut. Dia harus berhemat untuk biaya hidupnya. Jadi dia melanjutkan perjalanannya, sampai ke Benteng Vredeburg. Masuk sebentar di kawasan Benteng kuno tersebut, tak lupa dia mengambil gambar dari handphone flip jadulnya. Lelah berjalan jauh, dan matahari sudah semakin tenggelam. “Pulang saja lah, Indra sendirian di kos-kosan.” 

Menaiki Bus TransJogja, Pemuda itu menghantamkan lelahnya dengan menyandarkan kepalanya ke kaca bus. Sembari dia melihat-lihat jalanan. Suatu kesenangan tersendiri baginya berjalan-jalan di negeri orang. Ketika bus melewati Universitas Gajah Mada, Pemuda itu melihat billboard besar. Billboard itu menarik perhatiannya. Dia mengangkat kepalanya dan membaca tulisan di billboard tersebut. JOB FAIR UGM. RATUSAN PERUSAHAAN IKUT BERPARTISIPASI. “Job Fair? Apa itu?”

“In, kau tahu Job Fair?”. Indra bengong. “Katanya ada ratusan perusahaan yang ikut berpartisipasi. Kayaknya itu semacam workshop buat mencari kerja ya?”. “Bisa jadi sih, coba kamu datang saja”, Indra membalas. “Iya ya, kenapa tidak?”.

Dengan mengenakan kemeja kuning andalannya, Pemuda itu datang ke hari pertama Job Fair tersebut. Grha Sabha Pramana Universtias Gajah Mada menjadi panggung sakti bagi ribuan pelamar hari itu. “Wow, UGM besar sekali”. “Gila, apa-apaan ini”. Orang-orang tumpah ruah di gedung itu. Pria-Wanita yang tampaknya baru selesai kuliah. Dengan pakaian rapi dan didominasi  kemeja putih, celana hitam, dan sepatu kerja. Sambil memegang map dan berjalan terburu-buru. Tak jarang orang-orang disitu sering tertabrak satu sama lainnya. Pemuda itu terdiam. “Ah, kayaknya cuma aku sendiri yang pakai baju kuning terang seperti ini”. Lalu dia menghampiri suatu stand. Dilihatnya itu nama sebuah perusahaan besar di Indonesia. Dia bertanya-tanya kepada petugas yang berjaga disitu. Lalu diperolehnya info yang sangat berharga. “Bawa surat lamaran, pas photo, CV, dan fotokopi ijazah atau surat keterangan lulus!”. Sial baginya, dia tidak membawa apapun hari itu. Pemuda itu tidak tahu dan tidak mempersiapkan semuanya. Tapi Pemuda itu bisa bernafas lega, pasalnya pendaftaran lamaran bisa dilakukan pada hari terakhir, besok. Pemuda itu langsung bergegas pulang.


Keeseokan harinya pemuda itu datang lagi. Dengan kemeja kuning terang andalannya lagi. Dia telah membawa cukup banyak surat lamaran dan CV untuk dimasukkan ke semua lowongan. Dia berhenti di setiap stand, dilihatnya semua kualifikasi lowongan pelan-pelan. Jika dapat lowongan untuk IT, baru dia masukkan. Sampai dia akhirnya kembali ke stand yang dia kunjungi kemarin. Dia telah membawa berkas-berkas persyaratan. Lalu dipersilahkan untuk mengantar sendiri berkasnya ke dalam. Ke suatu ruangan tertutup yang tidak kelihatan isinya dari luar. Dia mengetok pintu. Suara pria dewasa terdengar di ujung sana, mempersilakan Pemuda itu memasuki ruangan. Pemuda itu berjalan pelan, melempar senyum ke Pria paruh baya yang duduk di depan meja bertumpukan berkas-berkas lamaran. “Taruh aja di atas situ”, katanya singkat. Pemuda itu meletakkannya dengan rapi, dan berdiri di depannya. Pria paruh baya itu memberi isyarat kepadanya untuk meninggalkan ruangan. Pemuda itu berbalik badan, dan keluar ruangan dalam kebingungan. “Sudah, itu saja.”

Sunday, September 1, 2013

Kemaro Island, Romance in The Middle of Musi River


Once upon a time, a princess of Palembang, Siti Fatimah was sent to marry a prince from China, Tan Bun An. The Princess asked nine gold jars for her wedding gift. To avoid pirates, that gold jars were covered by vegetables. When The Prince opened it, he saw that jars are only filled by vegetables, so he threw them to Musi River. Fell ashamed and disappointed, The Prince decided to fell himself to Musi River and he sunk. Knowing that, The Princess  fell herself to Musi River too, following her lover. A moment before, she left a message: “If you see a tree grow on the land where i sink, it will be our love tree”. Then The Princess sunk, and suddenly appear a land above the river. People believed this is the grave of both lover, and called it “Pulau Kemaro/Kemarau” (lit. Dry Island) which means even high water happened in Musi River, this island would always dry. And that was the story goes.




Kemaro Island is located in the middle of Musi River, Palembang. To go to Kemaro Island, you must rent a boat from Ampera Bridge, and it takes 30 minutes to get there. A round trip rate with boat is from Rp.50.000-Rp.70.000,-. But if you want faster, you can rent a speedboat. Speedboat can cut your time till 15 minutes, and surely it’s more expensive. A round trip rate with speedboat is from Rp.100.000-Rp.150.000,-. A boat/speedboat can accommodates up to 10 people, so it’s a better way if you bring many of your friends to go there. It’s getting cheaper, right?



Besides the story of Siti Fatimah and Tan Bun An, there is another romance lies down on this island. And that is the myth of Love Tree. That Love Tree is an old banyan tree. People say, if you write your name and your lover on that Love Tree, then your love story will last forever. But if you are single, and you write your name and your crush, then someday you will be a brand new couple. Believe it or not. It’s myth.




Kemaro Island is identical with China’s ethnic. Chinese people use this island as their worship place, so they build temple and pagoda there. Also you can find many Budha statues in there, including Tong Sam Chong or Tripitaka statue, along with his pupils such as, Sun Go Kong, Ti Pat Kai, and Sha Wu Jin. No wonder if on Chinese New Year’s Day or any other feast days, this island always be busy by local visitors or even foreign tourists. At that moment, this island will be lovely decorated with lanterns everywhere and enlighten a whole island beautifully. Not excessive if we say like we are in China now.

Old Book Hunting in South Jakarta


Do you love books? Want to grab some old rare books you can’t find in bookstore? Luckily, there is a place you must try. Located in Basement Floor of Plaza Blok M, South Jakarta, "Loak" Bookstore maybe your best choice to stop by. Literally, "Loak" means Flea Market, and in this content, it certainly referred to Flea Market of Books which provided books, magazines, comics, dictionaries, literatures, textbooks, holy books, and many others. 



Before moved to Plaza Blok M, "Loak" Bookstore took place in Kwitang, Central Jakarta. It had been popular since Ada Apa Dengan Cinta movie mentioned it in a scene where Rangga, the main actor, asked Cinta, the main actress, to look for some old book there. Due to crowded and caused traffic around, sellers were forced to move to proper location, and spread to Pasar Senen, Tanah Abang, Jatinegara, and Blok M. 


Not only new books, you can also find old books, used books, rare books, translated books, foreign language books, or even out-of-print books, from all categories such as music, cooking, novel, and many more. For student, there are so many textbooks from elementary school till college. But to find a book, you must take a closer look, slowly, and patiently from one seller to another. Some books are still in good condition, although the others maybe have some minor damages in cover or paper, but they certainly still can be read well. 


All books in here are incredibly cheap, either they’re new or used. You can save 10-20% for new book than you buy it in bookstore. Bookstore is fixed price, but here, you can bid all the books you want. With some persistent bargain, and a bit of luck, you can get book till 50-70% cheaper for used books. The cheapest book can be found in "Obral" sign, which start from Rp.10.000,- Amazing, right? "But, what about quality?", you asked. Don’t worry. For new books, they’re all sealed tidily, and have no different than you usually see in bookstore. But for used books, you must be careful and pay more attention. Although some of them are sealed too, you must check them again from cover, paper, and color, till you satisfied and really meant to buy them.  


There is nothing wrong to get one or two books from here. Besides you can have some good time, read book can enrich our knowledge too. So, if you want to experience different atmosphere of travelling, you must try to visit "Loak" Bookstore.

Sunday, April 21, 2013

Memory Recall

Ketika kita merasa sedih. Kesepian menyeruak. Kesendirian menyelimuti. Kita terdiam. Tubuh bergetar. Tiba-tiba otak kita secara lancang memunculkan gambaran-gambaran. Ya, potret kehidupan di masa silam. Kenangan lama. Terlihat video di depan mata. Ada kejadian menyenangkan bertahun-tahun lalu. Ada tawa. Ada orang-orang di sekitar. Canda. Indah.
Lalu kita tersadar. Itu semua hanya khayalan. Illusi yang kita ciptakan. Karena perasaan sama atas hal yang pernah kita lakukan. Dan saya menyebutnya, Memory Recall.

Memory Recall, yang dalam hal ini adalah sebutan untuk gambaran-gambaran ilusi optik yang muncul karena kenangan masa lalu terpancing oleh emosi dan suasa hati dalam kondisi waktu yang sangat pas. Hal ini dipicu tingkat emosi yang memuncak, yang menyebabkan otak bereaksi untuk mengambil memory-memory lama yang tersimpan rapi didalam biliknya dan akan dikeluarkan dalam kondisi darurat seperti ini.


Saat sedih secara otomatis otak kita bekerja diluar nalar. Menampilkan bayang-bayang kenangan yang membuat kita tambah sedih. Entah kenangan ketika ditinggal kekasih, melihat kematian, ataupun kenangan buruk lainnya. Apalagi jika emosi kesedihan tersebut berasal dari satu sumber kejadian yang sama/mirip baik pada saat ini ataupun pada bayangan kenangan masa lalu tersebut.

Lalu selain sedih, apakah pada saat bahagia kita bisa merasakan sensasi yang sama?? Jawabannya Iya.

 
 Saat bahagia otak kita akan recall kenangan-kenangan terdahulu. Emosi kebahagian saat memenangkan suatu perlombaan seketika terkuak kembali saat kita memenangkan suatu lomba undian. Semua itu karena otak kita sering terangsang oleh emosi. Sehingga apabila dipicu oleh suatu kondisi yang sama maka gambaran-gambaran lama itu akan muncul kembali, tanpa kita kehendaki, dan tanpa kita tahu bagaimana harus diakhiri.

Kalau saya pribadi, sering sekali mendapati Memory Recall ini. Karena pada dasarnya manusia selalu melakukan perbandingan, yang dilakukan di masa lalu dan di masa sekarang. Walau dari sana kita berusaha untuk belajar, terkadang kita jua tak kuasa melakukan perubahan. 

Kesalahan di masa lampau terulang kembali. Mengundang pahit yang tak berhenti-henti. Sakit. Lemah. Dikalahkan illusi. Menyalahkan waktu. Menyalahkan kondisi. Ingin kembali ke masa lalu. Merubah segalanya. Tapi hanya tangis tersisa. Dan tidak bisa apa-apa. Tenggelam dalam kenangan bayang-bayang. Bak Video yang diputar ke belakang. Kita menontonnya dengan jelas. Setiap langkah yang kita ambil di masa lalu. Dan persis sama dengan langkah yang kita ambil sekarang. Penyesalan. Tak apa. Recall datang berkali-kali. Tak apa. Selama kita percaya. Video kita pada akhirnya akan menampilkan Ending yang sempurna.