- Seeking Excuse
Alkisah hiduplah seorang Pemuda dari negeri Palembang. Pemuda
itu baru saja menyelesaikan pendidikan kuliahnya. Baru lulus. Akan tetapi,
Pemuda itu tidak diperbolehkan mengikuti ritual wisuda saat itu dikarenakan dia
dianggap belum melunasi uang pendidikannya. “Kenapa saya harus membayar uang
semester depan? Saya sudah lulus! Saya tidak kuliah lagi!”, marah Pemuda itu
kepada Pembantu Dekan. Pembantu Dekan tetap bersikeras. Protes pemuda itu tak
digubris. Keputusan kampus mutlak. Akhirnya Pemuda itu tidak dapat mengikuti wisuda
periode Oktober, dan harus menunggu periode selanjutnya, Desember. Itupun,
Pemuda itu diwajibkan membayar iuran semester yang tidak berguna. Mengeluarkan
tabungan terakhirnya untuk membayar iuran semester padahal dia sudah lulus.
Konyol.
Hari-hari berikutnya Pemuda itu masih kesal. Amarahnya kepada
pihak Kampus belum redam. Suatu ketika dia melihat sebuah lowongan dari perusahaan
Game Developer terkenal. Dia ingat nama perusahaan Game Developer itu sering
dilihatnya di beberapa game yang pernah dia mainkan. Hatinya berbisik. “Kenapa
tak kucoba saja?” dan dia pun mengirimkan berkas lamarannya.
Beberapa hari kemudian, dia mendapat sebuah e-mail. Kalau
tidak salah ingat, itu adalah malam takbiran Hari Raya Idul Fitri 2010. Dan dia
mendapat e-mail balasan dari seorang bernama Vietnam, Nguyen bla..bla..bla,
yang merupakan perwakilan perusahaan Game Developer tersebut, untuk mengikuti
tes di kantor cabang mereka di Jogjakarta. Sontak Pemuda ini melompat dari
duduknya. Senyum kegembiraan tak dapat ditutupi. Diikuti kemeriahan alunan
takbir yang terus bergema sepanjang malam itu. “Nice Timing”, bisik pemuda itu.
Pemuda itu bercerita kepada orangtuanya. Cuma satu hal yang
dirisaukan orangtuanya, “Nanti di Jogja mau tinggal dimana?”. “Jangan khawatir,
ada Indra, aku akan menginap di kos-kosannya beberapa hari”. Ya, beberapa hari.
Itu yang diucapkan kepada orangtuanya. Tapi dalam hati Pemuda itu, “Ya paling
sebulan. Wisudaku juga masih tiga bulan lagi. Aku mau liburan dan refreshing
dulu setelah bulan-bulan berat menghadapi Ujian Akhir, Sidang, dan Kampus
akhir-akhir ini. Alasan yang bagus. Pasti dapat izin ke Jogja nih” Orangtuanya
pun setuju untuk membiarkannya pergi menuju Jogjakarta. Memberikannya tiket dan
uang makan yang cukup untuk sepuluh hari disana. Sambil berdoa anaknya mendapat
pekerjaan sepulangnya dari sana.
Izin telah dikantongi. Trik yang mujarab bagi pemuda itu.
Baru pertama kali ini dia ke Jogja. Untuk usianya yang baru 22 tahun saat itu,
Jogja adalah tanah terjauh yang pernah dia pijaki seumur hidupnya. Dia Cuma
berkeliaran di Palembang, sekali ke Medan, dua kali ke Lampung, lebih dari lima
kali ke Jambi, dan cuma sekali ke Jakarta. Sudah lama rasanya Pemuda ini tidak
pergi berlibur jauh, dan berkat tawaran tes tersebut akhirnya kesampaian juga
niatnya yang tertahan itu. Jogja, I’m Coming!
- Land of Gudeg
Dua hari satu malam telah dia lewati. Dan sekarang dia telah
menginjak tanah Jawa. Ngayogyakartohadiningrat. Berbekal tanya sana-sini,
akhirnya dia sampai juga ke tempat tes. Selama tes berlangsung, yang
dilakukannya hanya mengambar. Ya, mengambar. Pemuda itu disuruh mengambar
karakter wanita dalam game. Dia mengambil pensil, dan mencoret-coret kertas
ujiannya. Dari wajah, garis tubuh, kostum, sampai menjadi suatu bentuk wanita
lengkap yang siap berperang melawan monster-monster di dunia Game. “Sudah, itu
saja”.
Sambil menanti pengumuman kelulusannya, yang katanya akan di
kabarkan dalam waktu dekat, Pemuda itu memulai waktu liburannya. Hari itu, dia
pergi mengunjungi Malioboro. Betapa kagumnya dia dengan kawasan tersebut. Dia
berjalan setapak demi setapak menyusuri hamparan orang. Diliatnya kanan-kiri
para pedagang menjajakan barang jualannya. Dia berhenti sebentar,
memegang-megang sebentar, lalu menanyakan harga. “Wah, Murah!!”, dia terkejut
gembira. Dia tidak membeli barang-barang tersebut. Dia harus berhemat untuk
biaya hidupnya. Jadi dia melanjutkan perjalanannya, sampai ke Benteng
Vredeburg. Masuk sebentar di kawasan Benteng kuno tersebut, tak lupa dia
mengambil gambar dari handphone flip jadulnya. Lelah berjalan jauh, dan
matahari sudah semakin tenggelam. “Pulang saja lah, Indra sendirian di
kos-kosan.”
Menaiki Bus TransJogja, Pemuda itu menghantamkan lelahnya
dengan menyandarkan kepalanya ke kaca bus. Sembari dia melihat-lihat jalanan.
Suatu kesenangan tersendiri baginya berjalan-jalan di negeri orang. Ketika bus
melewati Universitas Gajah Mada, Pemuda itu melihat billboard besar. Billboard
itu menarik perhatiannya. Dia mengangkat kepalanya dan membaca tulisan di
billboard tersebut. JOB FAIR UGM. RATUSAN PERUSAHAAN IKUT BERPARTISIPASI. “Job
Fair? Apa itu?”
“In, kau tahu Job Fair?”. Indra bengong. “Katanya ada ratusan
perusahaan yang ikut berpartisipasi. Kayaknya itu semacam workshop buat mencari
kerja ya?”. “Bisa jadi sih, coba kamu datang saja”, Indra membalas. “Iya ya,
kenapa tidak?”.
Dengan mengenakan kemeja kuning andalannya, Pemuda itu datang
ke hari pertama Job Fair tersebut. Grha Sabha Pramana Universtias Gajah Mada
menjadi panggung sakti bagi ribuan pelamar hari itu. “Wow, UGM besar sekali”.
“Gila, apa-apaan ini”. Orang-orang tumpah ruah di gedung itu. Pria-Wanita yang
tampaknya baru selesai kuliah. Dengan pakaian rapi dan didominasi kemeja putih, celana hitam, dan sepatu kerja.
Sambil memegang map dan berjalan terburu-buru. Tak jarang orang-orang disitu
sering tertabrak satu sama lainnya. Pemuda itu terdiam. “Ah, kayaknya cuma aku
sendiri yang pakai baju kuning terang seperti ini”. Lalu dia menghampiri suatu
stand. Dilihatnya itu nama sebuah perusahaan besar di Indonesia. Dia
bertanya-tanya kepada petugas yang berjaga disitu. Lalu diperolehnya info yang
sangat berharga. “Bawa surat lamaran, pas photo, CV, dan fotokopi ijazah atau
surat keterangan lulus!”. Sial baginya, dia tidak membawa apapun hari itu.
Pemuda itu tidak tahu dan tidak mempersiapkan semuanya. Tapi Pemuda itu bisa
bernafas lega, pasalnya pendaftaran lamaran bisa dilakukan pada hari terakhir,
besok. Pemuda itu langsung bergegas pulang.
Keeseokan harinya pemuda itu datang lagi. Dengan kemeja
kuning terang andalannya lagi. Dia telah membawa cukup banyak surat lamaran dan
CV untuk dimasukkan ke semua lowongan. Dia berhenti di setiap stand, dilihatnya
semua kualifikasi lowongan pelan-pelan. Jika dapat lowongan untuk IT, baru dia
masukkan. Sampai dia akhirnya kembali ke stand yang dia kunjungi kemarin. Dia
telah membawa berkas-berkas persyaratan. Lalu dipersilahkan untuk mengantar
sendiri berkasnya ke dalam. Ke suatu ruangan tertutup yang tidak kelihatan
isinya dari luar. Dia mengetok pintu. Suara pria dewasa terdengar di ujung
sana, mempersilakan Pemuda itu memasuki ruangan. Pemuda itu berjalan pelan,
melempar senyum ke Pria paruh baya yang duduk di depan meja bertumpukan
berkas-berkas lamaran. “Taruh aja di atas situ”, katanya singkat. Pemuda itu
meletakkannya dengan rapi, dan berdiri di depannya. Pria paruh baya itu memberi
isyarat kepadanya untuk meninggalkan ruangan. Pemuda itu berbalik badan, dan
keluar ruangan dalam kebingungan. “Sudah, itu saja.”