“Naik kereta api, tuut.. tuut.. tuut.
Siapa hendak turun…”
Lagu itu menjadi lagu pengantar liburanku. Waktu itu, aku masih duduk di Sekolah Dasar. Dan saat musim liburan panjang, keluargaku memutuskan untuk berlibur ke rumah saudara ibuku di Jambi. Aku begitu girang. Tak pernah aku keluar dari Palembang sebelumnya. Jadilah waktu itu adalah liburan pertamaku keluar kota. Meninggalkan Palembang dan segala makanan lezatnya untuk sementara.
![]() |
| Kereta Jurusan Palembang - Lubuk Linggau |
Yeay, keluar kota!
Dan yang membuatku lebih bersemangat lagi adalah saat ku tahu kalau dalam perjalanan nanti kami akan menaiki kereta api. Kereta api! Aku belum pernah menaiki kereta api sebelumnya.
Kereta api malam jurusan Palembang – Lubuk Linggau kelas Bisnis. Aku masih ingat. Waktu itu aku belum mengerti apa itu Ekonomi, Bisnis, maupun Eksekutif. Ibuku bilang, jika aku duduk di Eksekutif maka aku akan mendapatkan bantal dan makanan. Dan juga AC. Karena tentu saja, paling mahal. Ibuku bilang lagi kalau di Ekonomi nanti aku tidak akan bisa tidur, karena kursinya yang keras tanpa busa, dan berdiri tegap 90 derajat.
![]() |
| Kursi kelas Ekonomi |
“Kalau Bisnis?”, tanyaku.
“Ambil tengah-tengahnya.”, jawab ibuku.
Setelah antri cukup lama di loket, serta selesai bertanya-tanya tentang apa dan bagaimana cara kerja calo dengan kakakku, kami pun berjalan menuju peron. Maksudku, selain aku, karena sudah jelas kalau aku pasti berlari. Tidak mungkin bocah yang tengah kegirangan hanya berjalan saja, bukan? Aku berlari duluan, meninggalkan keluargaku yang kudengar meneriaki namaku di belakang. Mulai dari ujung gerbong sampai lokomotif tempat masinis bekerja. Aku selalu menghitung satu per satu gerbong yang kulewati. Gerbong-gerbong paling belakang adalah tempatnya para Eksekutif. Sepi. Namun kursinya besar, dan sepertinya empuk. Gerbong setelah lokomotif adalah Ekonomi. Benar kata ibuku, kursinya tidak ada busa. Dan disini ramai sekali. Kardus menumpuk-numpuk di atas, dan juga di bawah. Ada juga orang yang menyusun koran di lantai di antara dua kursi yang bersinggunggan, kemudian dia tidur di ‘lorong’ itu. Beberapa orang juga melakukan hal yang sama. Kebanyakan dari mereka anak-anak kecil yang tidak bisa tidur di kursi tegak lurus itu. Dan kalau malam ini aku tidak bisa tidur dalam posisi duduk, sepertinya aku akan melakukan hal yang sama.
Dan benar adanya.
Sekembalinya ke Palembang, kami memutuskan untuk mengambil kereta siang. Berbeda dengan menaiki kereta malam yang hanya gelap terlihat, kereta siang justru kaya akan pemandangan. Gunung-gunung terbentang sepanjang perjalanan. Bukit, sawah, ladang, lukisan alam yang memberikan pertunjukan silih berganti. Tapi untuk pertunjukan terfavorit, aku memilih terowongan. Waktu itu, ibu memperingatkanku kalau beberapa saat lagi kereta api akan memasuki terowongan. Aku terdiam. Otak anak SD-ku berpikir, “Lalu apa yang akan terjadi kalau memasuki terowongan?”. “Jangan-jangan!” Seketika aku tidak dapat melihat ibuku. Semuanya gelap. Kudengar suara kakakku di sebelah tapi aku tidak mendengar. Aku terkejut dengan kegelapan di siang ini. Dan tidak lebih dari 15 detik, cahaya mulai menyeruak kembali.
“Seru, kan?”, tanya ibuku.
Aku mengangguk. 15 detik yang barusan kulalui adalah hal paling menyenangkan selama perjalanan di dalam kereta ini. Bagaimana ketika semua menjadi gelap dalam sekejap. Bagaimana ketika matahari tidak dapat berbuat apa-apa untuk melakukan aktifitasnya. Ingin rasanya kulewati lagi terowongan tadi, dan merasakan gelap lagi. Lalu terang lagi. Gelap lagi. Terang lagi. Oh, andai saja ada terowongan sepanjang itu.
Dan sejak saat itu, aku menyukai kereta.
Bertahun-tahun setelah kereta pertamaku, aku sudah lebih sering naik kereta. Dari kereta Jabodetabek (Commuter Line), kereta lintas Jawa, sampai kereta bawah tanah (Subway) di Bangkok, Singapura, dan Hong Kong.
Kereta Rel Listrik atau Commuter Line melayani transportasi dalam kota Jakarta, dan kota-kota satelit di sekitarnya. Keretanya lebih modern dari yang di Palembang. Kursinya berhadap-hadapan berbanjar, sehingga menimbulkan ruang kosong yang luas di tengah tempat orang-orang berdiri. Tapi kereta ini bisa overload saat di jam-jam sibuk, terutama jam pergi dan pulang kerja. Bukan lagi rebutan kursi, tapi orang-orang berebut tempat berdiri. Ditambah jadwal yang sering telat, Commuter Line memang perlu banyak dilakukan pembenahan.
![]() |
| (Commuter Line Jabodetabek) |
Kereta bawah tanah pertama yang kunaiki adalah MRT (Mass Rapid Transit) Bangkok. MRT Bangkok hanya menyediakan satu jalur. Namun terintegrasi dengan Skytrain yang berjalan di atas tanah. Pengalaman pertamaku menaiki kereta bawah tanah sungguh berkesan. Aku tak dapat menahan kakiku untuk berjalan lebih cepat menuruni tangga stasiun. Di dalam stasiun, kulihat semua orang berlalu-lalang. Berjalan begitu cepat. Ada yang menuju loket, ada yang menuju pintu keluar, ada juga yang menuju mesin tiket. Dan aku menuju mesin tiket.
![]() |
| MRT Bangkok |
Wow! Canggihnya!
Dengan memasukkan uang kertas, atau sejumlah uang koin, lalu memilih stasiun tujuan dengan menyentuh layar besar mesin ini, maka tiket pun akan keluar. Tiket koin untuk sekali jalan, ataupun tiket kartu yang bisa di top-up.
“Kapan Indonesia bisa punya mesin seperti ini…”, keluhku.
Kedatangan kereta diperkirakan 5 menit lagi. Hebat! Cuma 5 menit! Aku pun melihat sekeliling, orang-orang berdiri dengan tertib di belakang garis kuning. Rapi. Lalu saat bunyi kedatangan kereta diperdengarkan, aku pun melihat jam tanganku, dan benar adanya! Tepat lima menit!
“Kapan Indonesia bisa punya kereta yang tepat waktu seperti ini…”, keluhku lagi.
Saat pintu terbuka, orang-orang yang di dalam kereta keluar terlebh dahulu, sedangkan orang-orang yang ingin masuk, berbaris di samping kanan dan kiri. Ketika semua sudah keluar, barulah orang-orang masuk. Tanpa dorong-dorongan. Tanpa sikut-sikutan. Semuanya tertib.
“Kapan Indonesia bisa punya masyarakat yang tertib seperti ini…”, keluhku lagi dan lagi.
Kereta ini bersih. Bersih sekali. Tak ada sampah karena tidak boleh makan dan minum di dalam. Apalagi merokok. Kereta berjalan di dalam terowongan yang gelap. Tapi jangan takut tak ada cahaya seperti saat naik kereta ke Palembang, di dalam kereta ini sungguh terang. Dan juga dingin. Walaupun keinginanku dulu yang ingin merasakan gelap yang panjang dalam terowongan sirna saat menaiki kereta bawah tanah, tapi kali ini aku mendapat sensasi yang baru. Melintasi bawah tanah lebih cepat dari berjalannya orang-orang di atas, aku menemukan kebahagian yang baru. Merasakan gerbong kereta yang bergoncang, dan berkelok seperti ular, ditambah kesadaran bahwa ini berada di dalam terowongan bawah tanah, keceriaanku pun meledak. Aku suka kereta.
“Kapan Indonesia bisa punya kereta canggih seperti ini…”, keluhku untuk terakhir kali.
Lalu saat tahun lalu mendengar proyek MRT Jakarta akhirnya direalisasikan, hatiku lega. Akhirnya, Indonesia punya kereta bawah tanah! Penantian panjang setelah selama 27 tahun direncanakan. Aah, tidak sabar rasanya menjelajahi bawah tanah Jakarta 2018 nanti.
![]() |
| Desain MRT Jakarta |
MRT Singapura lebih canggih lagi. Waktu tunggu yang singkat, dan kedatangan kereta yang akurat membuat kita tidak kehilangan waktu. Stasiun dan kereta MRT Singapura benar-benar modern. Jarak antarstasiun juga dekat. Jadi dapat menjangkau hampir ke semua area di Singapura. Lalu di Hongkong, kereta bawah tanahnya bernama MTR (Mass Transit Railway), menyajikan waktu tempuh yang sangat singkat. Untuk mencapai satu stasiun pernah saya perhatikan hanya memakan waktu 2 menit lebih. Suasana kereta bawah tanah Hong Kong persis seperti yang sering kita lihat di anime atau manga Jepang. Mobilitas orang-orangnya sangat tinggi. Jadi jangan heran kalo melihat orang-orang yang berjalan begitu cepat mendahului kita, atau bahkan menabrak kita. Waktu sungguh sangat berharga bagi mereka.
![]() |
| MTR Hong Kong, desain futuristik |
Setelah terkesima dengan kereta bawah tanah luar negeri itu, aku langsung bertekad, bahwa belum lengkap hobi anehku menaiki kereta kalau aku belum menaiki nenek moyangnya. Jaringan kereta bawah tanah tertua di dunia. Mengangkut 3,5 juta orang tiap harinya. Berhenti di 274 stasiun. Menempuh jarak 408 kilometer. Dan beroperasi sejak tahun 1863. London Underground.
![]() |
| Tanda London Underground |
![]() |
| Tube di dalam stasiun |
The Tube adalah nama lain London Underground karena bentuk terowongannya yang bundar membuat kita seperti berada dalam sebuah tabung. Tapi tidak hanya terowongan, model keretanya pun membentuk lengkungan pada bagian atas. Tapi walaupun bernama Undergound, ternyata 55% jalurnya berada di atas tanah. Jalur itu kebanyakan untuk melayani tujuan luar kota. Berbeda seperti di Singapore atau New York yang terlihat modern, beberapa bangunan stasiun masih mempertahankan arsitektur lamanya. Lalu untuk stasiun tersibuk adalah Waterloo yang mengangkut sekitar 94 juta penumpang per tahun.
![]() |
| Peron Tube, seperti dalam tabung, bukan? |
![]() |
| Tube keluar dari terowongan |
London Underground adalah asal muasal. Prototype bagi kereta bawah tanah lain di dunia, seperti New York, dan Sidney. Bagaikan umat Muslim yang menunaikan ibadah haji ke Mekah sebagai pelengkap ibadahnya, untuk pecinta kereta bawah tanah sepertiku, sudah menjadi mimpi dan hasrat yang tinggi untuk bisa menaiki London Underground.
Masih ingat adegan kejar-kejaran di dalam stasiun antara James Bond yang dibintangi Daniel Craig dengan Raoul Silva yang diperankan oleh Javier Bardem dalam film Skyfall? Atau adegan saat rencana terakhir V yang memasang bom di dalam kereta untuk meledakkan parlemen Inggris dalam film V for Vendetta? Ya, semuanya dilakukan di Tube. Tube begitu populer, bukan? Tapi apakah aku akan berlari-lari layaknya James Bond jika aku menaiki Tube nantinya? Ah, sepertinya tidak. Aku sudah terlalu tua untuk adegan lari-lari di dalam kereta seperti saat SD dulu.
Lalu apa yang akan kulakukan?
Hmm, mungkin seperti ini. Kubayangkan dengan jelas ketika diriku berada di dalam stasiun Tube. Keringat dingin membasahi tubuhku. Antusias meledak. Wajahku membentuk senyum tanpa sadar. Kulihat sekeling. Orang-orang Britania bergerak serentak dari berbagai penjuru. Terburu-buru. Dari daerah asal ke tujuan. Berbaur. Tua muda, miskin kaya. Semua tertib mengantre, dan rela berdiri. Semua tampak seragam. Semua tampak sama. Termasuk aku, orang kampung yang belum punya yang seperti itu di negerinya. Lalu kuberjalan sama seperti yang lain, menghampiri loket, dan berbicara kepada petugas dengan penuh semangat.











